Rabu, 22 Januari 2014

desa

desaku harapanku 
desa
Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
Untuk bekerja dan mengembangkan diri

Walau lahan sudah menjadi milik kota
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati
Negara harus berpihak pada para petani

Entah bagaimana caranya
Desalah masa depan kita
Keyakinan ini datang begitu saja
Karena aku tak mau celaka

Desa adalah kenyataan
Kota adalah pertumbuhan
Desa dan kota tak terpisahkan
Tapi desa harus diutamakan

Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung
Masa panen masa berpesta
Itulah harapan kita semua

Tapi tengkulak tengkulak bergentayangan
Tapi lintah darat pun bergentayangan
Untuk apa punya pemerintah
Kalau hidup terus terusan susah

Di lumbung kita menabung
Datang paceklik kita tak bingung
Masa panen masa berpesta
Itulah harapan kita semua

Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
Untuk bekerja dan mengembangkan diri

Desa harus jadi kekuatan ekonomi

Selasa, 14 Januari 2014

i love u negarawan

                          Adakah Negarawan di Sekitar Kita ?
”Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan oleh karena itu insidental,” kata Sjahrir, ”Usaha untuk menyatukan bagian-bagian secara paksa hanya akan menghasilkan anak banci.” Persatuan seperti itu, katanya, hanya akan menjadi ”sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.”
Abraham Lincoln menunjukkan kenegarawanannya bahkan ketika dia mengobarkan perang saudara di Amerika Serikat. Dia mengerahkan pasukan dari utara untuk memerangi negara-negara bagian selatan yang ingin mengesahkan diskriminasi rasial dan melegalkan perbudakan.
Bagaimanapun, kerinduan terhadap seorang pemimpin, terhadap sebuah obor yang bisa menerangi massa di tengah kegelapan, barangkali merupakan tuntutan manusiawi di mana-mana—terlebih dalam masyarakat yang cenderung paternalistik seperti Indonesia. Kerinduan semacam itu juga bukan omong kosong belaka.
Bagaimanapun, seperti ekonomi tak bisa menjadi panglima, begitu pula politik. Politik pada akhirnya cuma satu aspek dari kehidupan. Hatta dan Sukarno telah menunjukkan bahwa persahabatan dan empati terhadap sesama manusia tidak layak dikalahkan oleh perbedaan politik. Untuk banyak hal, dalam gaya dan konsepsi, mereka berseberangan. Dan Hatta bisa saja menyerang atau mencaci-maki Sukarno karena kebijakan dan tingkah laku politiknya. Tapi, dalam kehidupan pribadi, keduanya sudah seperti saudara kandung.
Hal yang seperti itu hanya mungkin melalui proses politik yang panjang. Tujuan pendidikan politik, menurut Sjahrir, bukanlah ”untuk menciptakan agitasi,” melainkan ”untuk membawakan kejernihan.” Jauh sebelum kemerdekaan, Hatta dan Sjahrir menamakan gerakan mereka dengan Pendidikan Nasional Indonesia—bukan partai. Meski anggotanya kecil dibandingkan dengan partai-partai Islam ataupun nasionalis kala itu, gerakan ini jauh membuat risau kolonial Belanda. Hatta dan Sjahrirlah, bukan Sukarno, yang dibuang ke Boven Digul.
Karena perbedaan merupakan realitas dalam masyarakat, dan kebutuhan akan persatuan mustahil senantiasa terpenuhi, yang paling bisa diharapkan dari seorang pemimpin atau politisi adalah kesediaan untuk memperjuangkan kepentingan kelompoknya dan melakukan tawar-menawar dengan kelompok lain secara beradab.
Kedua, orang mencampuradukkan persatuan dengan kualitas kenegarawanan. Persatuan menuntut kompromi, padahal sikap kompromistis bukan selalu merupakan kualitas kepemimpinan yang baik. Dalam masyarakat demokratis dan plural, pemimpin harus mewakili kepentingan publik pemilih dengan beragam kepentingan. ”Pertengkaran” para politisi, betapapun mungkin memuakkan, adalah bagian dari realitas masyarakat, tempat tiap-tiap elemennya memperjuangkan agenda yang berlain-lainan. Persatuan saja bahkan belum tentu mengenyangkan rakyat yang lapar diimpit krisis.
Kita barangkali kecewa terhadap mereka, yang telah membuka momentum besar reformasi tapi kurang cakap mengisinya. Tapi, di samping kelemahan-kelemahan yang mereka miliki, patut pula kita tuding sistem, setidaknya karena sistemlah yang membuat kita tak punya banyak pilihan pemimpin di luar Abdurrahman atau Amien.
Lebih dari itu, ketika sebuah partai mampu menjunjung substansi di atas agitasi, perbedaan sering tidak patut dikhawatirkan. Natsir dari Masyumi dan Kasimo dari Partai Katolik bahkan terkadang beraliansi untuk isu tertentu di parlemen. Mereka juga teman yang saling menghormati.
Negarawan dibentuk oleh sistem politik. Depolitisasi masif di zaman Orde Baru telah demikian merasuk, bahkan masih kita rasakan bekasnya hingga kini. Banyak orang pintar menganggap politik sebagai barang najis dan menghindarinya. Tak aneh jika partai politik dan parlemen kemudian diisi oleh ”negarawan” sekelas Harmoko, Siti Hardijanti Rukmana, atau Yorrys Raweyai.
Negeri ini tengah menghadapi salah satu krisis ekonomi dan sosial yang terhebat.Ada dua problem dalam harapan itu. Pertama, orang terlalu berharap kepada elite politik. Setelah melalui proses demokratis, para pemimpin sebenarnya tak lebih merupakan manifestasi dari publik, dari rakyat. Masyarakat sulit bisa mendapatkan pemimpin lebih dari yang bisa diharapkannya.
Orang pintar yang mencoba masuk dalam politik, seperti Sri Bintang Pamungkas atau Budiman Sudjatmiko, harus terlempar atau masuk bui karena sistem otoriter dan monolitik yang akhirnya hanya melahirkan bebek-bebek di parlemen. Sistem pemilihan proporsional, bukan distrik, juga tidak banyak membantu munculnya kader-kader pemimpin baru. Yang ada hanya petualang yang bersembunyi di balik popularitas partai, bukannya politisi yang teruji mempertanggungjawabkan mandatnya kepada publik pemilih.
Pandangan bahwa tokoh dan para pahlawanlah yang menggerakkan sejarah mungkin lebih merupakan mitos. Namun, harus diakui pula bahwa setiap masyarakat memiliki mekanismenya sendiri untuk melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki bentangan sayap besar sehingga mampu terbang cukup tinggi, memiliki cakrawala yang luas, untuk memandu anggota masyarakat selebihnya.
Para pemimpin juga tidak mesti bersatu. Kualitas kenegarawanan Bung Karno, Hatta, dan Sjahrir tidak serta-merta dipertanyakan hanya karena triumvirat itu akhirnya pecah berkeping-keping. Tidak selalu mudah menemukan resep krisis yang sama, bahkan jika tujuan mereka sama-sama baik. Namun, seperti sejarah selalu membuktikan, kualitas kenegarawanan yang tinggi umumnya dicirikan oleh pengabdian terhadap gagasan-gagasan kemanusiaan yang lebih kekal, lebih universal.
Patung Bung Hatta dibakar karena kecamannya yang tajam terhadap Demokrasi Terpimpin Bung Karno, yang menurut dia justru antidemokrasi. ”Kedaulatan rakyatlah, bukan kedaulatan bangsawan ningrat, yang harus menjadi konsep demokrasi.”
Salah satu krisis kita, kata orang, adalah krisis visi kenegarawanan. Sepertinya ada kerinduan pada kemunculan seorang pemimpin besar. Tapi pentingkah itu?
Sejak zaman pergerakan, kita menemukan ”konflik” di antara para elite. Apa yang ada sekarang tidak lebih baik, atau lebih buruk dari itu. Dalam sistem yang demokratis juga kian sulit seorang pemimpin untuk ”membuang sekat-sekat”, untuk tidak terikat pada konstituennya, orang-orang yang memilihnya..
Sjahrir masuk bui antara lain karena mengecam konsepsi nasionalisme Bung Karno sebagai ”sebuah nasionalisme yang dibangun atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya atas dasar fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita.” Nasionalisme, bagi Sjahrir, adalah kendaraan belaka untuk menuju cita-cita kemanusiaan luas yang tidak mengenal Timur atau Barat.
SPANDUK yang terbentang di jalanan dan stiker yang tertempel di warung-warung rokok belakangan ini bisa melukiskan salah satu kerinduan kita yang klasik. ”Para elite politik jangan bertengkar. Rakyat lapar.” Lebih dari sekadar harapan agar elite-elite politik bersatu, pesan itu sesungguhnya menggambarkan kerinduan besar kepada kepemimpinan, kepada kenegarawanan.
Tak terlalu mengherankan, ketika Soeharto jatuh, kita tergopoh-gopoh mencoba mencari pemimpin. Dan kecewa. Bahkan, hanya beberapa bulan sebelum Soeharto turun, banyak orang tak percaya ada pemimpin lain yang bisa menggantikannya.
Terbang tinggi, dan cakrawala yang luas. Mungkin itu adalah salah satu karakter negarawan yang terpenting. Mereka mampu menyisihkan kepentingan jangka pendek, demi mencapai tujuan yang jauh ke depan, melampaui zamannya. Mereka juga mampu menyisihkan kepentingan sempit kelompoknya, demi tujuan besar dalam kehidupan bersama.
Tidak selalu mudah menjadi pemimpin, apalagi negarawan. Karakter-karakter tadi tidak cuma menuntut pengetahuan dan pendidikan, tapi juga keberanian. Banyak orang mengecam Amien Rais tidak sopan ketika pada 1993 dia menyuarakan pentingnya ”suksesi kepemimpinan”—dalam bahasa yang lugas, dia meminta Soeharto turun. Banyak orang, terutama di kalangan Islam sendiri, juga mengecam Abdurrahman Wahid untuk gagasannya tentang toleransi beragama—untuk pentingnya melebur sekat-sekat.

 Untuk NKRI 2014-2019, kami  berharap orang yang punya sifat negarawan bukan politisi busuk



NKRI 22014-2019                                                                                                                 1


Minggu, 12 Januari 2014

lagu damai tentang desaku

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, Tak mudah bercerai
Selalu ku rindukan, desaku yang permai
Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, Tak mudah bercerai
Selalu ku rindukan, desaku yang permai
 

Sebuah karya manis dari L Manik